berobat ke luar negeri

Kanker Serviks: Penyakit Berbahaya yang Ditakuti Wanita

Rasa sakit pada bagian kemaluan, pendarahan yang tidak normal ketika mengalami menstruasi dan setelah berhubungan intim, rasa sakit setelah buang air kecil, sakit punggung dan pinggang, dan pendarahan dari kantung kemih, kehilangan berat badan, dan anemia adalah resiko yang akan dihadapi oleh para wanita yang mengalami kanker serviks. Apa itu kanker serviks? Ini adalah kanker yang tumbuh pada bagian uterus yang berada di dekat janin tumbuh dan berkembang. Kanker ini terbilang berbeda dengan kanker lainnya karena pertumbuhannya yang lambat (butuh waktu bertahun-tahun) sehingga gejalanya hampir tidak terlihat sama sekali. Lalu, apa yang menyebabkan penyakit ini? Bagaimana pula gejala yang sebenarnya? Dan bagaimana penanganannya? Temukan semua jawabannya di bawah ini:

Penyebabnya

Menurut hasil penelitian terpercaya, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV atau Human papillomavirus yang secara umum tersebar melalui hubungi seksual. Ini berarti bahwa kesehatan pasangan ikut mempengaruhi terjadi kanker ini. Jika pasangan sehat, besar kemungkinan penularan virus HPV tidak akan terjadi. Selain itu, faktor usia dalam melakukan hubungan intim dengan pasangan juga harus diperhatikan karena usia yang terlalu muda akan memperbesar resiko terkena kanker berbahaya ini. Di sisi lain, disarankan pula untuk tidak gonta-ganti pasangan seksual karena hal ini akan semakin memperbesar resiko terkena penyakit ini.

Oya, ada pula penyebab lain yang dapat menyebabkan terjadinya kanker ini selain hubungan intim, yaitu merokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, sering melahirkan anak, dan minum pil KB lebih dari lima tahun.

Gejalanya

Selain pendarahan yang abnormal seperti yang disebutkan di awal tadi, gejala lain yang bisa dijadikan indikasi kanker serviks adalah keluarnya cairan yang terus menerus dari alat vital dengan bau yang tidak sedap dan berwarna merah muda, pucat, cokelat, atau kemerah-merahan (mengandung darah), rasa sakit setiap kali berhubungan intim, dan perubahan siklus haid dengan pendarahan yang terlalu banyak. Sementara itu, jika kanker ini sudah memasuki stadium akhir, gejala yang dapat saja muncul adalah pendarahan dalam urin, penyumbatan ginjal yang menyebabkan susah buang air kecil, pembengkakan pada salah satu kaki, nyeri pada tulang, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, rasa sakit pada bagian perut bawah dan panggul, dan hidronefrosis (nyeri pada punggung dan pinggang akibat pembengkakan ginjal).

Penanganannya

Penderita kanker serviks stadium awal disarankan untuk melakukan pembedahan untuk mengangkat sel-sel kanker dan kemudian menjalani radioterapi sesuai saran dokter. Sedangkan untuk kanker serviks stadium akhir, radioterapi akan dikombinasikan dengan kemoterapi guna mengendalikan pendarahan, menghentikan penyebaran sel kanker, dan mengurangi rasa nyeri pada organ intim. Lalu, bagaimana dengan wanita yang menderita penyakit ini di saat masa kehamilan? Apakah pengobatan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya masih boleh dijalankan? Ada dua opsi yang bisa diambil tergantung pada seberapa parah kanker tersebut. Jika kanker serviks yang diderita masih stadium awal, pengobatan akan ditunda sampai bayi dilahirkan. Hal ini penting untuk dilakukan guna menghindari keguguran atau bayi terlahir prematur. Sementara itu, jika kanker sudah memasuki stadium akhir, keputusan ada di tangan penderita itu sendiri. Jika memilih ditunda, keselamatan jiwanya bisa saja terancam dan dia bisa meninggal dunia. Namun, jika dilakukan pengobatan, bayinya bisa saja meninggal atau lahir secara prematur.

Dengan demikian, disarankan untuk tidak sembarangan melakukan hubungan intim walaupun hal ini bagi sebagian besar wanita “menyenangkan”. Ingat bahwa akibat yang harus ditanggung tidak sebanding dengan kesenangan yang didapat.