berobat ke luar negeri

FAQ seputar Operasi Kanker Payudara

Selain kanker serviks, kanker lain yang banyak ditakuti oleh para wanita adalah kanker payudara. Kanker ini termasuk penyakit kronis yang bisa saja membunuh penderitanya jika tidak ditangani dengan maksimal dan tepat. Bahkan ada sejumlah wanita yang sudah melakukan pengobatan tapi kanker yang diderita semakin parah dan menyebar ke payudara di sebelahnya. Banyak orang berpendapat bahwa cara efektif untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan cara dioperasi yang mana (maaf) payudara yang terserang kanker harus dipotong sehingga penderita akan kehilangan satu organ kewanitaannya tersebut. Berbicara soal operasi kanker payudara, apakah Anda penderita penyakit berbahaya ini yang berencana untuk melakukan operasi? Jika jawabannya iya, ada baiknya untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut agar tak menyesal nantinya:

Apakah ini satu-satunya solusi untuk menyembuhkan kanker payudara?

Operasi pengangkatan kanker bukan satu-satunya cara mengatasi penyakit ini karena ada banyak cara lainnya yang bisa diterapkan walaupun dianggap kurang begitu efektif. Tak dapat dipungkiri bahwa dengan melakukan pembedahan, penyakit ini bisa 90 persen bisa disembuhkan. Lalu, apa saja pengobatan lain yang bisa dijalankan jika tak ingin melakukan pembedahan? Ada radioterapi, kemoterapi, terapi hormon, dan terapi biologis dengan trastuzumab. Sebelum mengambil keputusan untuk menentukan pengobatan mana yang akan dijalankan, ada baiknya untuk konsultasi terlebih dahulu ke dokter dan pihak keluarga agar mendapatkan pengobatan yang tepat dan tidak menyusahkan keluarga.

Berapa dana yang harus disiapkan?

Dana yang harus disiapkan jika Anda memilih untuk melakukan operasi paling sedikit adalah 10-15 juta rupiah. Namun tidak perlu mengkhawatirkan soal biaya karena saat ini sudah ada kartu BPJS Kesehatan yang siap mengcover biaya operasi tersebut. Sayangnya, tidak semua biaya ditanggung karena ada pengobatan-pengobatan atau operasi lanjutan yang tidak ditanggung oleh program pemerintah tersebut. Di samping itu, untuk obat sendiri, obat yang disediakan hanya obat standar, bukan obat paten. Jika ingin membeli obat paten, biaya ditanggung sendiri. Begitu juga dengan lamanya rawat inap di rumah sakit yang mana BPJS hanya menanggung pasien untuk dirawat inap selama tujuh hari (satu minggu saja). Itu berarti bahwa lebih dari satu minggu, biaya harus ditanggung sendiri. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan program kesehatan dari pemerintah tersebut tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa ada banyak masyarakat yang merasa kecewa dengan program ini. Maka dari itu, pilihan ada di tangan Anda. Jika ingin mendapatkan perawatan yang maksimal, sebaiknya bayar semua biaya sendiri atau gunakan asuransi kesehatan yang ada. Namun, jika ingin berhemat, BPJS Kesehatan bisa diandalkan.

Adakah efek sampingnya dan apa saja efek samping tersebut?

Jawabannya ada dan efek samping yang bisa saja dialami pasien adalah kondisi kulit di bagian yang dioperasi terasa menarik dan ketak, otot lengan terasa lemah, ukuran lengan membesar, menopause dini, gangguan pada sistem reproduksi, insomnia, mudah merasa lelah, jantung berdebar-debar, dan mudah emosi atau depresi. Ketika mengalami efek samping ini dan merasa tidak nyaman karenanya, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Jangan sampai efek samping ini diabaikan karena akan mengganggu rutinitas dan membuat Anda menjadi tidak nyaman.

Apa yang sebaiknya dilakukan pasca operasi?

Setelah dioperasi, pasien diharapkan mulai menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, ada hal yang tak kalah penting lainnya yang harus dilakukan oleh pasien pasca operasi, yaitu mengkonsumsi obat-obatan yang sudah diberikan oleh dokter, menjaga kebersihan perban, memperhatikan jahitan bekas operasi, dan mewaspadai adanya infeksi. Jangan sampai kebersihan perban dan jahitan sampai tidak diperhatikan karena hal ini akan membuat luka sulit sembuh dan bahkan mengalami pembusukan.

berobat ke luar negeri

Kanker Serviks: Penyakit Berbahaya yang Ditakuti Wanita

Rasa sakit pada bagian kemaluan, pendarahan yang tidak normal ketika mengalami menstruasi dan setelah berhubungan intim, rasa sakit setelah buang air kecil, sakit punggung dan pinggang, dan pendarahan dari kantung kemih, kehilangan berat badan, dan anemia adalah resiko yang akan dihadapi oleh para wanita yang mengalami kanker serviks. Apa itu kanker serviks? Ini adalah kanker yang tumbuh pada bagian uterus yang berada di dekat janin tumbuh dan berkembang. Kanker ini terbilang berbeda dengan kanker lainnya karena pertumbuhannya yang lambat (butuh waktu bertahun-tahun) sehingga gejalanya hampir tidak terlihat sama sekali. Lalu, apa yang menyebabkan penyakit ini? Bagaimana pula gejala yang sebenarnya? Dan bagaimana penanganannya? Temukan semua jawabannya di bawah ini:

Penyebabnya

Menurut hasil penelitian terpercaya, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV atau Human papillomavirus yang secara umum tersebar melalui hubungi seksual. Ini berarti bahwa kesehatan pasangan ikut mempengaruhi terjadi kanker ini. Jika pasangan sehat, besar kemungkinan penularan virus HPV tidak akan terjadi. Selain itu, faktor usia dalam melakukan hubungan intim dengan pasangan juga harus diperhatikan karena usia yang terlalu muda akan memperbesar resiko terkena kanker berbahaya ini. Di sisi lain, disarankan pula untuk tidak gonta-ganti pasangan seksual karena hal ini akan semakin memperbesar resiko terkena penyakit ini.

Oya, ada pula penyebab lain yang dapat menyebabkan terjadinya kanker ini selain hubungan intim, yaitu merokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, sering melahirkan anak, dan minum pil KB lebih dari lima tahun.

Gejalanya

Selain pendarahan yang abnormal seperti yang disebutkan di awal tadi, gejala lain yang bisa dijadikan indikasi kanker serviks adalah keluarnya cairan yang terus menerus dari alat vital dengan bau yang tidak sedap dan berwarna merah muda, pucat, cokelat, atau kemerah-merahan (mengandung darah), rasa sakit setiap kali berhubungan intim, dan perubahan siklus haid dengan pendarahan yang terlalu banyak. Sementara itu, jika kanker ini sudah memasuki stadium akhir, gejala yang dapat saja muncul adalah pendarahan dalam urin, penyumbatan ginjal yang menyebabkan susah buang air kecil, pembengkakan pada salah satu kaki, nyeri pada tulang, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, rasa sakit pada bagian perut bawah dan panggul, dan hidronefrosis (nyeri pada punggung dan pinggang akibat pembengkakan ginjal).

Penanganannya

Penderita kanker serviks stadium awal disarankan untuk melakukan pembedahan untuk mengangkat sel-sel kanker dan kemudian menjalani radioterapi sesuai saran dokter. Sedangkan untuk kanker serviks stadium akhir, radioterapi akan dikombinasikan dengan kemoterapi guna mengendalikan pendarahan, menghentikan penyebaran sel kanker, dan mengurangi rasa nyeri pada organ intim. Lalu, bagaimana dengan wanita yang menderita penyakit ini di saat masa kehamilan? Apakah pengobatan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya masih boleh dijalankan? Ada dua opsi yang bisa diambil tergantung pada seberapa parah kanker tersebut. Jika kanker serviks yang diderita masih stadium awal, pengobatan akan ditunda sampai bayi dilahirkan. Hal ini penting untuk dilakukan guna menghindari keguguran atau bayi terlahir prematur. Sementara itu, jika kanker sudah memasuki stadium akhir, keputusan ada di tangan penderita itu sendiri. Jika memilih ditunda, keselamatan jiwanya bisa saja terancam dan dia bisa meninggal dunia. Namun, jika dilakukan pengobatan, bayinya bisa saja meninggal atau lahir secara prematur.

Dengan demikian, disarankan untuk tidak sembarangan melakukan hubungan intim walaupun hal ini bagi sebagian besar wanita “menyenangkan”. Ingat bahwa akibat yang harus ditanggung tidak sebanding dengan kesenangan yang didapat.