berobat ke luar negeri

Tanya Jawab tentang Batu Empedu

Pernah mendengar tentang batu empedu? Mungkin sebagian masih asing dengan masalah kesehatan yang satu ini. Singkatnya, batu empedu terbentuk karena terjadinya pengkristalan sebagai akibat dari tingginya kolesterol pada cairan empedu. Semakin lama, kristal tsb akan membentuk batu dengan berbagai ukuran di kandung empedu. Batu empedu tidak boleh disepelekan keberadaannya karena dapat mengganggu fungsi kandung empedu yang membantu proses pencernaan lemak, pembuangan limbah, penghilang racun dalam tubuh, dsb. Makanya, Anda harus mengetahui gejalanya lebih awal supaya dapat sesegera mungkin melakukan penanganan sehingga potensi kesembuhan semakin besar. Mengetahui faktor yang meningkatkan potensi terserang batu empedu juga penting dilakukan untuk melakukan pencegahan. Tak lupa mengetahui penanganan yang tepat untuk batu empedu. Silakan ketahui semua jawaban atas pertanyaan Anda tentang batu empedu di bawah ini.

Apa gejala yang ditimbulkan?

Sama seperti penyakit pada umumnya yang memiliki gejala, penderita batu empedu juga demikian. Adapun gejala penyakit batu empedu, sebagai berikut:

  • Nyeri perut. Memang ada banyak penyakit yang ditandai dengan nyeri perut. Akan tetapi, nyeri perut sebagai pertanda terserang batu empedu sedikit berbeda. Kalau terserang batu empedu, nyeri perut berawal di bawah tulang rusuk lalu merembat ke bagian kanan atas tepatnya dari dada ke tulang skapula (tulang belikat). Nyeri ini biasanya tidak segera mereda bahkan berlangsung lebih dari 15 menit.  
  • Mual & muntah. Rasa mual & ingin muntah sejatinya bukan hanya karena tanda kehamilan atau sudah terserang penyakit maag, melainkan juga lantaran penyakit batu empedu yang dialami.
  • Mata berwarna kuning. Mata berwarna kuning mengindikasikan bahwa tubuh terserang masalah kesehatan. Selain kelainan darah, kanker pankreas, dan sirosis hati, batu empdu juga ditandai dengan mata berwarna kuning.

Ketika mengalami gejala-gejala tsb, segera pergi ke dokter untuk mendapatkan penanganan secepatnya. Untuk memastikan gejala tsb adalah batu empedu, Anda akan disarankan melakukan  pemeriksaan MRI scan, USG, bahkan tes darah.

Siapa saja yang paling rentan terserang?

Pada dasarnya, setiap orang beresiko terserang batu empedu. Akan tetapi, Anda dengan kriteria berikut ini lebih rentan terserang batu empedu:

  • Usia di atas 40 tahun. Penyakit mudah sekali datang ketika telah memasuki masa tua tepatnya di atas usia 40 tahun. Termasuk batu empedu, usia tua lebih rentan terserang. Akan tetapi, Anda bisa mencegah serangan batu empedu di usia tua salah satunya dengan mengurangi konsumsi lemak, kopi, dan alkohol dari sekarang.
  • Kelebihan berat badan. Ubah mindset Anda bahwa gemuk itu lambang kemakmuran. Justru terlalu gemuk dapat mengundang banyak penyakit termasuk batu empedu. Mulai sekarang berusaha menurunkan berat badan dengan  perbanyak konsumsi makanan yang kaya serat sehingga bisa kenyang lebih lama, banyak minum air putih terutama air putih hangat guna meningkatkan metabolisme tubuh, dan tentunya olahraga teratur untuk mengoptimalkan proses pembakaran lemak jadi energy.
  • Wanita yang telah melahirkan. Wanita digadang-gadang lebih rentan terserang batu empedu dibanding pria, khususnya wanita setelah melahirkan. Pasalnya, kadar kolesterol wanita selama kehamilan mengalami peningkatan. Untuk mencegah batu empedu, wanita disarankan tetap menjaga pola makan sehat selama kehamilan dan tak lupa melakukan senam hamil apabila telah disetujui dokter kandungan.  

Bagaimana penanganannya?

Kalau sudah terserang batu empedu, apa yang harus dilakukan? Pertama, bisa dengan memanfaatkan bahan alami seperti daun sirsak, temulawak, atau buah apel. Kedua, bisa ditangani dengan mengkonsumsi obat penghancur batu empedu yang telah diresepkan oleh dokter. Ketiga, dengan operasi ketika batu empedu dalam kondisi parah dan sering kambuh. Jenis operasi yang disarankan adalah kolesistektomi laparoskopik, operasi dengan memberikan sayatan kecil pada perut bagian kanan. Kalau operasi tsb tidak berhasil mengeluarkan batu empedu, akan dilakukan kolesistektomi sayatan terbuka.     

berobat ke luar negeri

Berencana Berobat ke Luar Negeri? Jangan Sampai Salah Pilih Rumah Sakit atau Dokter!

Meski telah banyak rumah sakit bagus di tanah air, tak mengendurkan niat banyak orang untuk berobat ke luar negeri. Singapura dan Malaysia menjadi tujuan berobat favorit pasien Indonesia. Dengan berobat ke luar negeri, mereka berharap menerima hasil diagnosa yang akurat & penanganan medis yang tepat sehingga meningkatkan peluang sembuh karena dilakukan oleh dokter yang bersertifikasi internasional juga berpengalaman sekaligus didukung dengan peralatan medis yang lengkap juga modern. Berencana berobat ke luar negeri? Di luar negeri pun, Anda jangan sampai salah pilih rumah sakit. Inilah resiko yang harus siap Anda hadapi jika sampai salah pilih, sbb:

Kenyamanan yang diharapkan tidak didapatkan selama berobat

Sudah haknya semua pasien untuk memperoleh kenyamanan selama berobat. Kenyamanan tidak hanya menunjang kesembuhan tetapi juga menimbulkan kepuasan sehingga akan kembali berobat atau sekedar medical checkup di tempat yang sama. Perlu dipahami bahwa kenyamanan tidak selalu berkaitan dengan layanan kesehatan yang profesional saja, tetapi juga berkaitan dengan penampilan fisik layanan kesehatan yang bersih dan juga lengkap, pemberi layanan kesehatan yang ramah, hangat, bersahabat, & cepat tanggap, peralatan medis yang lengkap & canggih, dsb. Akan tetapi, kenyamanan yang diharapkan akan sulit diperoleh ketika Anda salah pilih rumah sakit atau dokter.

Sia-sianya dana yang telah dikorbankan

Ketika memutuskan untuk berobat ke luar negeri, Anda harus menyiapkan dana bukan hanya untuk biaya berobat seperti biaya konsultasi, tes laboratorium, obat-obatan, & penanganan medis yang dilakukan, melainkan juga biaya makan, transportasi, serta penginapan selama berada di sana. Biaya yang dikeluarkan akan semakin mahal jika memilih negara dengan biaya hidup yang mahal dan harus rawat inap. Semua biaya yang dikeluarkan tentu bukan masalah ketika penyakit cepat sembuh. Namun, akan sangat menyesakkan ketika tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Inilah yang harus siap Anda terima jika rumah sakit atau dokter yang dipilih tidak memberikan pelayanan profesional.

Tingginya resiko salah diagnosa dan penanganan medis

Kesalahan diagnosa dalam dunia medis tidak bisa disepelekan. Dalam dunia medis, kesalahan mendiagnosa sangat fatal & tidak bisa ditolerir. Salah mendiagnosa akan membuat penanganan medis yang dilakukan juga salah. Dampak terburuknya adalah pasien tidak akan memperoleh kesembuhan atau justru timbul komplikasi penyakit yang dapat mengakibatkan cacat sebagian atau total bahkan meningkatkan resiko meninggal dunia. Oleh karenanya, Anda tidak boleh sembarang pilih rumah sakit atau dokter karena sangat tinggi resikonya. Minta rekomendasi MediSata Indonesia yang merupakan perwakilan resmi RS top di Penang, KL, dan juga Singapura untuk menemukan rumah sakit & dokter yang tepat.  

Di luar negeri sekalipun, bukan berarti semua rumah sakit atau dokter tepat untuk Anda. Makanya, jangan gegabah dalam memilih rumah sakit atau dokter. Ketika hendak berobat ke luar negeri, cari tahu profesionalitas tenaga medis berikut pekerja non-medisnya, sertifikasi yang diperoleh dokter, pengalaman dokter, dan lain sebagainya. Rumah sakit dengan tenaga kerja medis atau non-medis yang profesional akan memberikan Anda kenyamanan selama berobat, dokter yang bersertifikasi internasional & mengantongi pengalaman mumpuni dapat meminimalisir kesalahan diagnosa sehingga penyakit bisa cepat sembuh dan biaya tidak terbuang percuma.

berobat ke luar negeri

FAQ seputar Operasi Kanker Payudara

Selain kanker serviks, kanker lain yang banyak ditakuti oleh para wanita adalah kanker payudara. Kanker ini termasuk penyakit kronis yang bisa saja membunuh penderitanya jika tidak ditangani dengan maksimal dan tepat. Bahkan ada sejumlah wanita yang sudah melakukan pengobatan tapi kanker yang diderita semakin parah dan menyebar ke payudara di sebelahnya. Banyak orang berpendapat bahwa cara efektif untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan cara dioperasi yang mana (maaf) payudara yang terserang kanker harus dipotong sehingga penderita akan kehilangan satu organ kewanitaannya tersebut. Berbicara soal operasi kanker payudara, apakah Anda penderita penyakit berbahaya ini yang berencana untuk melakukan operasi? Jika jawabannya iya, ada baiknya untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut agar tak menyesal nantinya:

Apakah ini satu-satunya solusi untuk menyembuhkan kanker payudara?

Operasi pengangkatan kanker bukan satu-satunya cara mengatasi penyakit ini karena ada banyak cara lainnya yang bisa diterapkan walaupun dianggap kurang begitu efektif. Tak dapat dipungkiri bahwa dengan melakukan pembedahan, penyakit ini bisa 90 persen bisa disembuhkan. Lalu, apa saja pengobatan lain yang bisa dijalankan jika tak ingin melakukan pembedahan? Ada radioterapi, kemoterapi, terapi hormon, dan terapi biologis dengan trastuzumab. Sebelum mengambil keputusan untuk menentukan pengobatan mana yang akan dijalankan, ada baiknya untuk konsultasi terlebih dahulu ke dokter dan pihak keluarga agar mendapatkan pengobatan yang tepat dan tidak menyusahkan keluarga.

Berapa dana yang harus disiapkan?

Dana yang harus disiapkan jika Anda memilih untuk melakukan operasi paling sedikit adalah 10-15 juta rupiah. Namun tidak perlu mengkhawatirkan soal biaya karena saat ini sudah ada kartu BPJS Kesehatan yang siap mengcover biaya operasi tersebut. Sayangnya, tidak semua biaya ditanggung karena ada pengobatan-pengobatan atau operasi lanjutan yang tidak ditanggung oleh program pemerintah tersebut. Di samping itu, untuk obat sendiri, obat yang disediakan hanya obat standar, bukan obat paten. Jika ingin membeli obat paten, biaya ditanggung sendiri. Begitu juga dengan lamanya rawat inap di rumah sakit yang mana BPJS hanya menanggung pasien untuk dirawat inap selama tujuh hari (satu minggu saja). Itu berarti bahwa lebih dari satu minggu, biaya harus ditanggung sendiri. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan program kesehatan dari pemerintah tersebut tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa ada banyak masyarakat yang merasa kecewa dengan program ini. Maka dari itu, pilihan ada di tangan Anda. Jika ingin mendapatkan perawatan yang maksimal, sebaiknya bayar semua biaya sendiri atau gunakan asuransi kesehatan yang ada. Namun, jika ingin berhemat, BPJS Kesehatan bisa diandalkan.

Adakah efek sampingnya dan apa saja efek samping tersebut?

Jawabannya ada dan efek samping yang bisa saja dialami pasien adalah kondisi kulit di bagian yang dioperasi terasa menarik dan ketak, otot lengan terasa lemah, ukuran lengan membesar, menopause dini, gangguan pada sistem reproduksi, insomnia, mudah merasa lelah, jantung berdebar-debar, dan mudah emosi atau depresi. Ketika mengalami efek samping ini dan merasa tidak nyaman karenanya, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Jangan sampai efek samping ini diabaikan karena akan mengganggu rutinitas dan membuat Anda menjadi tidak nyaman.

Apa yang sebaiknya dilakukan pasca operasi?

Setelah dioperasi, pasien diharapkan mulai menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, ada hal yang tak kalah penting lainnya yang harus dilakukan oleh pasien pasca operasi, yaitu mengkonsumsi obat-obatan yang sudah diberikan oleh dokter, menjaga kebersihan perban, memperhatikan jahitan bekas operasi, dan mewaspadai adanya infeksi. Jangan sampai kebersihan perban dan jahitan sampai tidak diperhatikan karena hal ini akan membuat luka sulit sembuh dan bahkan mengalami pembusukan.

berobat ke luar negeri

Kanker Serviks: Penyakit Berbahaya yang Ditakuti Wanita

Rasa sakit pada bagian kemaluan, pendarahan yang tidak normal ketika mengalami menstruasi dan setelah berhubungan intim, rasa sakit setelah buang air kecil, sakit punggung dan pinggang, dan pendarahan dari kantung kemih, kehilangan berat badan, dan anemia adalah resiko yang akan dihadapi oleh para wanita yang mengalami kanker serviks. Apa itu kanker serviks? Ini adalah kanker yang tumbuh pada bagian uterus yang berada di dekat janin tumbuh dan berkembang. Kanker ini terbilang berbeda dengan kanker lainnya karena pertumbuhannya yang lambat (butuh waktu bertahun-tahun) sehingga gejalanya hampir tidak terlihat sama sekali. Lalu, apa yang menyebabkan penyakit ini? Bagaimana pula gejala yang sebenarnya? Dan bagaimana penanganannya? Temukan semua jawabannya di bawah ini:

Penyebabnya

Menurut hasil penelitian terpercaya, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV atau Human papillomavirus yang secara umum tersebar melalui hubungi seksual. Ini berarti bahwa kesehatan pasangan ikut mempengaruhi terjadi kanker ini. Jika pasangan sehat, besar kemungkinan penularan virus HPV tidak akan terjadi. Selain itu, faktor usia dalam melakukan hubungan intim dengan pasangan juga harus diperhatikan karena usia yang terlalu muda akan memperbesar resiko terkena kanker berbahaya ini. Di sisi lain, disarankan pula untuk tidak gonta-ganti pasangan seksual karena hal ini akan semakin memperbesar resiko terkena penyakit ini.

Oya, ada pula penyebab lain yang dapat menyebabkan terjadinya kanker ini selain hubungan intim, yaitu merokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, sering melahirkan anak, dan minum pil KB lebih dari lima tahun.

Gejalanya

Selain pendarahan yang abnormal seperti yang disebutkan di awal tadi, gejala lain yang bisa dijadikan indikasi kanker serviks adalah keluarnya cairan yang terus menerus dari alat vital dengan bau yang tidak sedap dan berwarna merah muda, pucat, cokelat, atau kemerah-merahan (mengandung darah), rasa sakit setiap kali berhubungan intim, dan perubahan siklus haid dengan pendarahan yang terlalu banyak. Sementara itu, jika kanker ini sudah memasuki stadium akhir, gejala yang dapat saja muncul adalah pendarahan dalam urin, penyumbatan ginjal yang menyebabkan susah buang air kecil, pembengkakan pada salah satu kaki, nyeri pada tulang, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, rasa sakit pada bagian perut bawah dan panggul, dan hidronefrosis (nyeri pada punggung dan pinggang akibat pembengkakan ginjal).

Penanganannya

Penderita kanker serviks stadium awal disarankan untuk melakukan pembedahan untuk mengangkat sel-sel kanker dan kemudian menjalani radioterapi sesuai saran dokter. Sedangkan untuk kanker serviks stadium akhir, radioterapi akan dikombinasikan dengan kemoterapi guna mengendalikan pendarahan, menghentikan penyebaran sel kanker, dan mengurangi rasa nyeri pada organ intim. Lalu, bagaimana dengan wanita yang menderita penyakit ini di saat masa kehamilan? Apakah pengobatan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya masih boleh dijalankan? Ada dua opsi yang bisa diambil tergantung pada seberapa parah kanker tersebut. Jika kanker serviks yang diderita masih stadium awal, pengobatan akan ditunda sampai bayi dilahirkan. Hal ini penting untuk dilakukan guna menghindari keguguran atau bayi terlahir prematur. Sementara itu, jika kanker sudah memasuki stadium akhir, keputusan ada di tangan penderita itu sendiri. Jika memilih ditunda, keselamatan jiwanya bisa saja terancam dan dia bisa meninggal dunia. Namun, jika dilakukan pengobatan, bayinya bisa saja meninggal atau lahir secara prematur.

Dengan demikian, disarankan untuk tidak sembarangan melakukan hubungan intim walaupun hal ini bagi sebagian besar wanita “menyenangkan”. Ingat bahwa akibat yang harus ditanggung tidak sebanding dengan kesenangan yang didapat.